Perbedaan Gugatan dan Gugatan Balik (Rekonvensi)

Image by Anastasia Gepp from Pixabay

AnalisaHukum.com, Jakarta – Dalam kehidupan bermasyarakat ini kita sering mendengar adanya sengketa antara dua pihak atau lebih, yang berujung pada diajukannya gugatan. Namun banyak diantara kita masih kebingungan dengan apa itu gugatan dan gugatan balik (rekonvensi).

Pada kesempatan ini kita akan membahas secara ringan dan menarik mengenai perbedaan Gugatan dan Gugatan Balik (Rekonvensi) dalam ruang lingkup hukum perdata.

Definisi Gugatan Menurut Para Ahli

Prof. Sudikno Mertokusumo, juga mempergunakan istilah gugatan, berupa tuntutan perdata (burgelijke vordering) tentang hak yang mengadung sengketa dengan pihak lain.[1] Begitu juga Prof. R. Subekti, mempergunakan sebutan gugatan, yang dituangkan dalam bentuk surat gugatan. Dengan demikian setiap perkara perdata, diajukan ke Pengadilan Negeri (PN) dalam bentuk surat gugatan.[2]

Jadi Gugatan Perdata adalah gugatan contentiosa  yang mengandung sengketa di antara pihak yang berperkara yang pemeriksaan penyelesaiannya diberikan dan diajukan kepada pengadilan dengan posisi para pihak, yang mengajukan gugatan disebut sebagai penggugat dan yang ditarik sebagai lawan dalam penyelesaian disebut sebagai tergugat.

Definisi Gugatan Balik (Rekonvensi) Menurut Para Ahli

Gugatan Balik (Rekonvensi)  diatur dalam Pasal 132 a ayat (1), hanya memberi pengertian singkat, makna menurut Pasal itu:

Rekonvensi adalah gugatan yang diajukan tergugat sebagai gugatan balasan terhadap gugatan yang diajukan penggugat kepadanya, dan gugatan rekonvensi itu, diajukan tergugat kepada Pengadilan Negeri (PN), pada saat berlangsung proses pemeriksaan gugatan yang diajukan penggugat.[3]

Demikian pengertian gugatan rekonvensi yang diatur dalam Pasal 132 a ayat (1) HIR. Maknanya hampir sama dengan yang dirumuskan dalam Pasal 244 Rv, yang mengatakan, gugatan rekonvensi adalah gugatan balik yang diajukan tergugat terhadap penggugat dalam suatu proses perkara yang sedang berjalan.[4]

Tergugat Mengajukan Gugatan Balik (Rekonvensi) Untuk Membela Hak Sekaligus Menghemat Biaya Dan Waktu

Kasus gugatan balik (rekonvensi) ini sering terjadi di masyarakat, misalnya kasus penggugat selaku penggarap suatu bidang tanah mengajukan gugatan sengketa kepemilikan tanah kepada tergugat. Namun tergugat yang memiliki bukti akta jual beli atas tanah merasa dirugikan atas klaim kepemilikan penggugat. Pada saat di persidangan tergugat mengajukan gugatan balik (rekonvensi) terhadap penggugat dikarenakan penggugat telah menempati tanah yang sudah dibeli oleh tergugat.

Gugatan Balik (Rekonvensi) biasanya diajukan oleh tergugat kepada penggugat, adapun tujuan gugatan rekonvensi ini untuk membela hak tergugat sekaligus menghemat biaya dan waktu untuk menggugat balik si penggugat atas suatu sengketa.

Bila anda ingin berkonsultasi lebih lanjut terkait gugatan, gugatan balik (rekonvensi) dan/atau ingin mendapatkan analisa hukum terkait persoalan hukum yang anda hadapi, segera hubungi kami NET Attorney di kontak Whatsapp 0811-1501-235 atau email: halo@analisahukum.com serta follow akun instagram @netattorney untuk mendapatkan informasi menarik


[1] Lihat Himpunan Peraturan Perundang-undangan RI. Jehtian Baru Van Hoeve, Jakarta, hlm. 34.

[2] Ibid, hlm. 28.

[3] M. Yahya Harahap, Hukum Acara Perdata Tentang Gugatan, Persidangan, Penyitaan, Pembuktian, dan Putusan Pengadilan. Sinar Grafika, Jakarta, hlm. 268.

[4] M. Yahya Harahap, Perlawanan terhadap Grosse Akta serta Putusan Pengadilan dan Arbitrase dan Hukum Eksekusi, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1993, hlm. 198.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu